Senin, 21 Maret 2011

Posttraumatic Stress Disorder (Tsunami Jepang)

Seperti yang kalian lihat diberita, pada hari Jumat tanggal 11 Maret 2011, Negara Jepang dilanda bencana tsunami. Bencana tsunami ini adalah bencana terbesar dalam 100 tahun di Jepang. Tsunami ini terjadi karena gempa dasyat berkekuatan 8,9 menghantam timur laut Jepang yang datang diperkirakan pukul 14.46 waktu setempat diikuti oleh gempa susulan di antaranya berkekuatan 7,4 skala richter sehingga memicu peringatan tsunami setinggi 10 meter. Jepang mendadak lumpuh total, tsunami di Jepang ini menyebabkan banyak korban serta kebakaran. Gambar-gambar televisi menunjukkan terjangan air bah yang membawa puing-puing bangunan. Televisi NHK memperlihatkan kobaran api dan asap hitam mengepul dari sebuah bangunan di Odaiba, daerah pinggiran Tokyo, dan kereta api cepat di utara negara itu dihentikan. Asap hitam juga membubung dari kawasan industri di daerah Yokohama Isogo. Tayangan televisi menunjukkan perahu, mobil dan truk mengambang di air setelah tsunami menghantam kota Kamaichi di utara Jepang. Sebuah jembatan, lokasinya yang tidak diketahui, tampak telah runtuh ke dalam air. Kantor berita Kyodo mengatakan, ada laporan tentang kebakaran di kota Sendai di timur laut. Ratusan pekerja kantor dan pengunjung toko tumpah ke jalan Hitotsugi, di pusat perbelanjaan di Akasaka di pusat kota Tokyo. Gelombang tinggi ini juga menghantam areal pertanian dan menyapu bersih pesesir laut Jepang dan jaringan listrik di sebagian besar wilayah ini padam.

Bencana tsunami di Jepang ini adalah bencana yang terbesar sehingga menimbulkan dampak trauma yang mendalam bagi masyarakatnya. Trauma ini disebut dengan Posttraumatic Stress Disorder (PTSD). Pengertiannya adalah gangguan kecemasan yang terbentuk dari peristiwa atau pengalaman yang tidak menyenangkan, menakutkan, mengerikan maupun mengancam kesehatan. Karakteristik dari stress pasca trauma adalah individu-individu yang pernah mengalami, menyaksikan, dan berhadapan langsung dengan peristiwa yang menyebabkan kematian atau luka serius. Gejala ini dapat berlangsung dalam hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun tergantung masing-masing individu dan orang sekitarnya yang mampu mendorongnya untuk bangkit dari gejala ini.

Posttraumatic stress disorder dari bencana tsunami di Jepang, antara lain :

•Untuk anak-anak akan sering menangis, mudah marah dan berteriak, mimpi buruk, sulit tidur , tidak mau makan, dan tidak mau bermain.
•Mereka yang mengalaminya akan sulit untuk tidur, merasa ketakutan, emosi yang tidak stabil, menjadi lebih waspada terhadap bahaya yang berisko, dan ketidakberdayaan.

Posttraumatic stress disorder ini bisa ditangani oleh psikiater dan terapi obat. Kita pun juga bisa terlibat dalam penyembuhan ini, dengan cara menjadi pendengar yang baik dan memberi harapan yang realistis. Gangguan ini tidak bisa hilang tapi seringkali sangat berkurang seiring waktu bahkan tanpa obat. Meskipun demikian, beberapa orang menjadi cacat tetap dengan gangguan tersebut.

Sumber :

http://medicastore.com/penyakit/3205/Gangguan_Stress_Pasca-Trauma_PTSD.html

Detiknews Jumat, 18 Maret 2011

Senin, 14 Maret 2011

Penyesuaian Diri, Pertumbuhan Personal, dan Stress

Penyesuaian Diri

Pengertian :
a). W.A Gerungan (1996) penyesuaian diri adalah mengubah diri sesuai dengan keadaan
lingkungan, tetapi juga mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan (keinginan diri).

Dalam psikologi, penyesuaian diri disebut dengan istilah adjustment. Adjustment itu
sendiri merupakan suatu proses untuk mencari titik temu antara kondisi diri sendiri dan
tuntutan lingkungan.

Aspek-aspek Penyesuaian Diri

.a. Penyesuaian pribadi
Penyesuaian pribadi adalah kemampuan individu untuk menerima dirinya sendiri
sehingga tercapai hubungan yang harmonis antara dirinya dengan lingkungan
sekitarnya.

b. Penyesuaian sosial
Proses saling mempengaruhi satu sama lain dan dari proses tersebut timbul suatu
pola kebudayaan dan tingkah laku sesuai dengan sejumlah aturan, hukum, adat, dan nilai-nilai yang mereka patuhi, demi untuk mencapai penyelesain bagi persoalan-persoalan hidup sehari-hari. Penyesuaian sosial terjadi dalam lingkup hubungan sosial tempat individu hidup dan berinteraksi dengan orang lain, dan hubungan-hubungan tersebut mencakup hubungan dengan masyarakat disekitar tempat tinggal, keluarga, sekolah,teman atau masyarakat luas secara umum.


Penyesuaian diri bersifat relatif karena berbeda-beda dengan norma sosial dan budaya
serta individu itu sendiri berbeda-beda dalam tingkah laku. Kriteria lain dalam
penyesuaian diri yang baik adalah pengendalian diri sendiri yang berarti orang mengatur impuls-impuls, pikiran, kebiasaan, emosi dan tingkah laku berkaitan dengan prinsip yang dikenakan pada diri sendiri. Standar penilaian yang baik dari tingkat penyesuaian diri adalah pengendalian diri sendiri. Bila penyesuaian diri dalam lingkungan tidak dapat diimbangi salah satu akibatnya adalah stress.


Pertumbuhan Personal

Manusia mengalami pertumbuhan didalam kehidupannya. Pertumbuhan adalah
perubahan secara perlahan pada manusia dalam mengenal sesuatu secara keseluruhan
kemudian mengenal bagian-bagian dari lingkungan sekitar yang dikemukakan oleh
gestalt.

Manusia dianugerahi kemampuan untuk meletakkan pertumbuhan karakter dalam
kerangka keterbatasan, pertumbuhan karakter pada mulanya dipahami melalui konteks
metapsikologi, yaitu sebuah usaha memahami manusia dari dinamika psikologi, berupa
kecenderungan tempramental. Selain itu ada pula faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan personal yaitu faktor biologis, geografi dan kebudayaan khusus.


Stress

Dalam pengertian umum adalah reaksi tubuh terhadap situasi yang menimbulkan
tekanan, perubahan, ketegangan emosi, dll.

Stress digolongkan menjadi beberapa bagian, salah satunya adalah stress fisiologis, stress yang disebabkan oleh gangguan struktur, fungsi jaringan organ, sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal.

faktor-faktor yang menyebabkan stress yaitu faktor biologis dan sosial kultural. Setiap individu mempunyai kemampuan yang berbeda-beda dalam menahan stress. Semua itu
tergantung pada sifat dan hakikat stress yaitu intensitas, lokal, dan umum serta individu yang terkait dengan proses adaptasi.

Dari segi psikologisnya sumber stress ada 4 yaitu frustasi, konflik, tekanan, krisis. Selain sumber stress ada juga tahapan stress yang pertama adalah stress paling ringan. Stress paling ringan ini disertai perasaan nafsu bekerja yang besar dan berlebihan dan mampu menyelesaikan pekerjaan tanpa memperhitungkan tenaga yang dimiliki. Tahap kedua sampai ketiga adalah stress yang disertai keluhan, seperti bangun pagi tidak segar atau letih, defekasi tdiak teratur, otot semakin tegang, tidak mampu bekerja sepanjang hari,dan aktivitas pekerjaan terasa sulit dan menjenuhkan. Tahap kelima adalah tahap dimana stress ditandai dengan kelebihan fisik dan mental, tahap terakhir atau tahap keenam adalah tahap yang paling berat yaitu tahapan stress dengan tanda-tanda seperti jantung berdebar keras, sesak napas, dan pingsan.

Menurut Dadang Hawari (2001), stress dapat mengenai hampir seluruh sistem tubuh,
seperti relaksasi, visualisasi, circuit breaker dan koridor stress. Teknik singkat untuk menghilangkan stress yaitu melakukan pernapasan dalam, mandi santai dalam bath,
tertawa, pijat, membaca, kecanduan positif (melakukan yang disukai secara teratur),
istirahat teratur, dan ngobrol.


Sumber :

Kesehatan Mental 1 oleh Drs. Yostinus Semium.OFM

Psikologi Untuk Keperawatan oleh Drs. Sunaryo,M.Kes

http://www.scribd.com/doc/47456948/PENYESUAIAN-DIRI diakses tanggal 14 Maret 2011

Senin, 07 Maret 2011

KEPRIBADIAN YANG SEHAT (KESEHATAN MENTAL) 2

ORANG YANG BERFUNGSI SEPENUHNYA (MODEL ROGERS)

• Pendekatan Rogers Terhadap Kepribadian

Rogers bekerja dengan individu-individu yang terganggu mencari bantuan untuk mengubah kepribadian mereka. Rogers mengembangkan suatu metode terapi yang menempatkan tanggung jawab utama terhadap perubahan kepribadian pada klien, karena itu disebut “terapi yang berpusat pada klien” (client-centered therapy).
Menurut Rogers motivasi orang yang sehat adalah aktualisasi diri. Aktualisasi diri adalah proses menjadi diri sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi -potensi psikologis yang unik. Aktualisasi diri akan dibantu atau dihalangi oleh pengalaman dan oleh belajar khususnya dalam masa kanak-kanak. Aktualisasi diri akan berubah sejalan dengan perkembangan hidup seseorang. Ketika mencapai usia tertentu (adolensi) seseorang akan mengalami pergeseran aktualisasi diri dari fisiologis ke psikologis. Jadi manusia yang sadar dan rasional tidak lagi dikontrol oleh peristiwa kanak – kanak seperti yang diajukan oleh aliran freudian, misalnya toilet trainning, penyapihan ataupun pengalaman seksual sebelumnya.
Rogers lebih melihat pada masa sekarang, dia berpendapat bahwa masa lampau memang akan mempengaruhi cara bagaimana seseorang memandang masa sekarang yang akan mempengaruhi juga kepribadiannya. Namun ia tetap berfokus pada apa yang terjadi sekarang bukan apa yang terjadi pada waktu itu.
Konsep diri menurut Rogers adalah kesadaran batin yang tetap, mengenai pengalaman yang berhubungan dengan aku dan membedakan aku dari yang bukan aku. Konsep diri ini terbagi menjadi 2 yaitu konsep diri real dan konsep diri ideal. Untuk menunjukkan apakah kedua konsep diri tersebut sesuai atau tidak, Rogers mengenalkan 2 konsep lagi, yaitu Incongruence dan Congruence. Incongruence adalah ketidakcocokan antara self yang dirasakan dalam pengalaman aktual disertai pertentangan dan kekacauan batin. Sedangkan Congruence berarti situasi di mana pengalaman diri diungkapkan dengan seksama dalam sebuah konsep diri yang utuh, integral, dan sejati.
Setiap manusia memiliki kebutuhan dasar akan kehangatan, penghargaan, penerimaan, pengagungan, dan cinta dari orang lain. Kebutuhan ini disebut need for positive regard, yang terbagi lagi menjadi 2 yaitu conditional positive regard (bersyarat) dan unconditional positive regard (tidak bersyarat).

Rogers menggambarkan pribadi yang berfungsi sepenuhnya adalah pribadi yang mengalami penghargaan positip tanpa syarat. Ini berarti dia dihargai, dicintai karena nilai adanya diri sendiri sebagai person sehingga ia tidak bersifat defensif namun cenderung untuk menerima diri dengan penuh kepercayaan.

• Menurut Rogers ada 5 sifat orang berfungsi sepenuhnya:
1. Keterbukaan pada pengalaman
2. Kehidupan Eksistensial
3. Kepercayaan terhadap Organisme Orang Sendiri
4. Perasaan Bebas
5. Kreativitas


ORANG YANG PRODUKTIF (MODEL FROMM)

• Pendekatan Fromm Terhadap Kepribadian

Fromm melihat kepribadian hanya sebagai suatu produk kebudayaan. Karena itu dia percaya bahwa kesehatan jiwa harus didefinisikan menurut bagaimana baiknya masyarakat menyesuaikan diri dengan kebutuhan-kebutuhan dasar semua individu, bukan menurut bagaimana baiknya individu-individu menyesuaikan diri dengan masyarakat.

• Dorongan Kepribadian yang Sehat

Sebagai organisme yang hidup, kita didorong untuk memuaskan kebutuhan-kebutuhan fisiologis dasar akan kelaparan, kehausan, dan seks. Apa yang penting dalam mempengaruhi kepribadian ialah kebutuhan-kebutuhan psikologis. Semua manusia sehat dan tidak sehat didorong oleh kebutuhan-kebutuhan tersebut, perbedaan antara mereka terletak dalam cara bagaimana kebutuhan-kebutuhan ini dipuaskan. Orang-orang yang sehat memuaskan kebutuhan-kebutuhan psikologis secara kreatif dan produktif. Orang-orang yang sakit memuaskan kebutuhan-kebutuhan tersebut dengan cara-cara irasional.

Fromm mengemukakan lima kebutuhan yang berasal dari dikotomi kebebasan dan keamanan :

1. Hubungan
Manusia menyadari hilangnya ikatan utama dengan alam dan dengan satu sama lain. Kita mengetahui bahwa kita masing-masing terpisah sendirian, dan tak berdaya. Sebagai akibatnya, kita harus mencari ikatan-ikatan baru dengan orang lain, kita harus menemukan suatu perasaan hubungan dengan mereka untuk menggantikan ikatan-ikatan kita yang hilang dengan alam.
Fromm percaya bahwa pemuasan kebutuhan untuk berhubungan atau bersatu dengan orang-orang lain ini sangat penting untuk kesehatan psikologis. Ada beberapa cara untuk menemukan hubungan. Beberapa cara adalah destruktif (tidak sehat), dan cara-cara lainnya konstruktif (sehat). Seseorang dapat berusaha untuk bersatu dengan dunia dengan bersikap tunduk kepada orang lain, kepada suatu kelompok, atau kepada sesuatu yang ideal, seperti Tuhan. Dengan menundukan diri, orang tidak lagi sendirian, tetapi menjadi milik dari seseorang atau sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Cara yang sehat untuk berhubungan dengan dunia adalah melalui cinta. Cinta memuaskan kebutuhan akan keamanan dan juga menimbulkan sesuatu perasaan integritas dan individualitas. Fromm tidak mendefinisikan cinta semata-mata dalam pengertian erotis, definisinya meliputi cinta orangtua terhadap anak, cinta kepada diri sendiri, dan dalam pengertian yang lebih luas, solidaritas dengan semua orang dan mencintai mereka.

2. Trasendensi
Erat hubungannya dengan kebutuhan hubungan ialah kebutuhan manusia untuk mengatasi atau melebihi peranan-peranan pasif sebagai ciptaan. Karena menyadari kodrat kelahiran dan kematian aksidental dan watak eksistensi yang serampangan, manusia didorong untuk melebihi keadaan tercipta menjadi pencipta, pembentuk yang aktif dari kehidupannya sendiri. Fromm percaya bahwa dalam perbuatan menciptakan (anak-anak, ide-ide, kesenian, atau barang-barang material) manusia mengatasi kodrat eksistensi yang pasif dan aksidental, dengan demikian mencapai suatu perasaan akan maksud dan kebebasan. Menciptakan ialah cara ideal atau sehat untuk melebihi keadaan binatang yang pasif yang tidak diterima oleh manusia karena kemampuan pikiran dan daya khayalnya.
Fromm percaya bahwa jalan lain untuk kreativitas ialah destruktivitas. Destruktivitas , misalnya kreativitas, merupakan suatu keterlibatan aktif dengan dunia. Inilah satu-satunya pilihan yang dimiliki seseorang, yakni menciptakan atau membinasakannya, mencintai atau membenci, tidak ada cara-cara lain untuk mencapai transendensi. Destruktivitas dan kreativitas keduanya berakar secara mendalam pada kodrat manusia. Akan tetapi, kreativitas merupakan potensi utama dan menyebabkan kesehatan psikologis.

3. Berakar
Cara yang ideal adalah membangun suatu perasaan persaudaraan dengan sesama umat manusia, suatu perasaan keterlibatan, cinta, perhatian, dan partisipasi dalam masyarakat. Perasaan solidaritas dengan orang-orang lain ini memuaskan kebutuhan untuk berakar, untuk berkoneksi dan berhubungan dengan dunia. Cara yang tidak sehat untuk berakar ialah dengan memelihara ikatan-ikatan sumbang masa kanak-kanak dengan ibu.

4. Perasaan Identitas
Manusia juga membutuhkan suatu perasaan identitas sebagai individu yang unik, suatu identitas yang menempatkannya terpisah dari orang-orang lain dalam hal perasannya tentang dia, siapa dan apa. Cara yang sehat untuk memuaskan kebutuhan ini adalah individualitas, proses dimana seseorang mencapai suatu perasaan tertentu tentang identitas diri. Orang-orang dengan perasaan individualitas yang berkembang baik mengalami diri mereka seperti lebih mengontrol kehidupan mereka sendiri dan kehidupan mereka tidak dibentuk oleh orang-orang lain. Dengan cara ini, identitas ditentukan berdasarkan kualitas-kualitas suatu kelompok, bukan berdasarkan kualitas-kualitas diri. Dengan melekat pada norma-norma, nilai-nilai, dan tingkah laku kelompok-kelompok itu, seseorang benar-benar menemukan semacam identitas.

5. Kerangka Orientasi
Dasar yang ideal untuk kerangka orientasi adalah pikiran, yakni sarana yang digunakan seseorang untuk mengembangkan suatu gambaran realistis yang objektif tentang dunia. Yang terkandung dalam hal ini ialah kapasitas untuk melihat dunia (termasuk diri) secara objektif, untuk menggambarkan dunia dengan tepat dan tidak mengubahnya dengan lensa-lensa subjektif dari kebutuhan-kebutuhan dan ketakutan-ketakutan orang sendiri.
Fromm sangat mementingkan persepsi objektif tentang kenyataan. Semakin objektif persepsi kita, semakin juga kita berhubungan dengan kenyataan, jadi semakin matang dan semakin tangkas pula kita dalam menanggulangi dunia luar. Pikiran harus dikembangkan dan diterapkan dalam semua segi kehidupan. Suatu yang kurang ideal dalam membangun suatu kerangka orientasi adalah lewat irasionalitas.


ORANG YANG MENGAKTUALISASIKA-DIRI (MODEL MASLOW)

• Dorongan Kepribadian yang Sehat
Dalam pandangan Maslow, semua manusia memiliki perjuangan atau kecendrungan yang dibawa sejak lahir untuk mengaktualisasika-diri dan ada persyaratan untuk mencapai aktualisasi-diri tersebut. Ada 4 kebutuhan untuk mencapai aktualisasi-diri yang berada dalam tingkat yang lebih rendah, yaitu :

1. Kebutuhan-kebutuhan fisiologis
2. Kebutuhan-kebutuhan akan rasa aman
3. Kebutuhan-kebutuhan akan memiliki dan cinta
4. Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan

• Metakebutuhan-metakebutuhan dan Metapatologi-metapatologi dari Maslow

Maslow membedakan antara kebutuhan dasar (basic-needs) dan kebutuhan tinggi (meta-kebutuhan atau meta-needs). Kebutuhan dasar mencakup kebutuhan tingkat kesatu sampai tingkat keempat. Sedangkan meta-kebutuhan adalah kebutuhan tingkat kelima (kebutuhan akan aktualisasi-diri). Meta-kebutuhan inilah yang menjadi motivasi utama bagi orang yang teraktualisasi-diri. Karena itu kebutuhan tingkat tertinggi ini disebut juga meta-motivasi.

Tujuh belas meta-kebutuhan yang oleh Maslow disebut juga Being-values (B-values; kebutuhan akan pertumbuhan) itu adalah:

1. Kebenaran, dengan meta-patologinya ketidakpercayaan, sinisme, dan skeptisisme.
2. Kebaikan, dengan meta-patologinya kebencian, penolakan, kejijikan, kepercayaan hanya pada dan untuk diri.
3. Keindahan, dengan meta-patologinya kekasaran, kegelisahan, kehilangan selera, rasa suram.
4. Kesatuan, keparipurnaan, dengan meta-patologinya disintegrasi.
5. Transendensi-dikotomi, dengan meta-patologinya pikiran hitam/putih, pandangan salah satu dari dua, pandangan sederhana tentang kehidupan.
6. Penuh energi; proses, dengan meta-patologinya mati, menjadi robot, terdeterminasi, kehilangan emosi dan semangat, kekosongan pengalaman.
7. Keunikan, dengan meta-patologinya kehilangan perasaan diri dan Individualitas, anonim.
8. Kesempurnaan, dengan meta-patologinya keputusasaan, tidak bisa bekerja apa-apa.
9. Kepastian, dengan meta-patologinya kacau-balau, tidak dapat diramalkan.
10. Penyelesaian; penghabisan, dengan meta-patologinya ketidaklengkapan, keputusasaan, berhenti berjuang dan menanggulangi.
11. Keadilan, dengan meta-patologinya kemarahan, sinisme, ketidakpercayaan, pelanggaran hukum, mementingkan diri sendiri.
12. Tata tertib, dengan meta-patologinya ketidakamanan, ketidakwaspadaan, ketidakhati-hatian.
13. Kesederhanaan, dengan meta-patologinya terlalu kompleks, kekacauan, kebingungan, kehilangan orientasi.
14. Kekayaan; keseluruhan; kelengkapan, dengan meta-patologinya depresi, kegelisahan, kehilangan perhatian pada dunia.
15. Tanpa susah payah; santai; tidak tegang, dengan meta-patologinya kelelahan, tegangan, kecanggungan, kejanggalan, kekakuan.
16. Bermain; kejenakaan, dengan meta-patologinya keseraman, depresi, kesedihan.
17. Mencukupi diri sendiri; mandiri, dengan meta-patologinya tidak berarti, putus asa, hidup sia-sia.
Bagi orang yang telah mencapai aktualisasi diri, tidak terpenuhinya satu apalagi beberapa dari meta-kebutuhan itu akan membuatnya sangat kesakitan, lebih sakit daripada kematian.
• Sifat-Sifat Pengaktualisasi-Pengaktualisasi-Diri
Untuk mencapai tingkat aktualisasi-diri, orang harus sudah memenuhi empat kebutuhan sebelumnya. Mereka jangan lagi direpotkan oleh masalah fisiologis, rasa aman, cinta dan memiliki, dan penghargaan. Mereka bebas dari neurosis, psikosis, dan gangguan psikologis lain.

Sifat-sifat berikut ini merupakan manifestasi dari metakebutuhan-metakebutuhan yang disebutkan di atas :

1. Mengamati Realitas Secara Efisien
2. Penerimaan Umum Atas Kodrat, Orang-Orang Lain dan Diri Sendiri
3. Spontanitas, Kesederhanaan, Kewajaran
4. Fokus pada Masalah-masalah di Luar Diri Mereka
5. Memiliki kebutuhan akan privasi dan independensi
6. Berfungsi secara otonom terhadap lingkungan sosial dan fisik
7. Apresiasi yang senantiasa segar
8. Mengalami pengalaman-pengalaman puncak (peak experiences)
9. Minat sosial
10. Hubungan antarpribadi yang kuat
11. Struktur watak demokratis
12. Mampu mengintegrasikan sarana dan tujuan
13. Selera humor yang tidak menimbulkan permusuhan
14. Sangat kreatif
15. Menentang konformitas terhadap kebudayaan

• Referensi :
Schultz, Duane, Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat, Penerjemah Drs. Yustinus, M.Sc., OFM. (Yogyakarta: Kanisius, 1997).

KEPRIBADIAN YANG SEHAT (KESEHATAN MENTAL)

KEPRIBADIAN YANG SEHAT
Kepribadian yang sehat ditinjau dari humanistik, psikoanalisa, dan behaviorisme :

Para ahli psikologi pertumbuhan (yang didominasi oleh ahli psikologi humanistik) menjelaskan bahwa kepribadian sehat sebagai kodrat manusia. Setiap manusia/individu di umpamakan sebagai suatu organisme yang telah tersusun baik secara teratur, yang sudah di tentukan sebelumnya, dengan adanya sifat spontan, kegembiraan membuat setiap individu di ibaratkan sebagai alat pemanas.

Pendapat dari para ahli psikoanalisa ini tidak berbicara mengenai potensi kita tumbuh lebih baik dan bisa dikatakan pendapat para ahli ini memberikan suatu gambaran yang pesimis tentang kodrat manusia. Orang-orang yang menganut ajaran psikoanalisa itu sebagai korban dari kekuatan-kekuatan biologis dan konflik-konflik masa anak-anak.

Pendapat dari para ahli psikologi behaviorisme. Mereka mengatakan bahwa kepribadian sehat manusia itu di ibaratkan seperti suatu mesin, yang artinya dimana manusia bisa sebagai suatu sistem kompleks yang bertingkah laku menurut cara-cara yang sesuai dengan hukum.


ORANG YANG MATANG (MODEL ALLPORT)
• Pendekatan Allport Terhadap Kepribadian

Orang tua Allport menekankan pentingnya kerja keras dan kesalehan, dan mereka membentukanya dengan suasana aman dan kasih sayang, oleh karena Allport lebih optimis tentang kodrat manusia daripada Freud. Dia memperlihatkan suatu keharuan yang luar biasa terhadap manusia karena sifat-sifatnya yang tampaknya bersumber pada masa kanak-kanaknya.

Gambaran kodrat manusia menurut Allport adalah positif, penuh harapan, dan menyanjung-nyanjung. Salah satu pendekatan yang berguna terhadap pemahaman segi pandangan psikologis Allport adalah mengemukakan tema-tema pokok dari teorinya tentang kepribadian dan menunjukkan bagaimana tema-tema itu berbeda dari apa yang terdapat pada Freud.

Menurut Allport kepribadian-kepribadian yang matang tidak dikontrol oleh trauma-trauma dan konflik-konflik masa kanak-kanak. Orang-orang yang neurotis terikat atau terjalin erat pada pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak, tetapi orang-orang yang sehat bebas dari paksaan-paksaan masa lampau. Pandangan orang sehat adalah ke depan, kepada peristiwa-peristiwa kontemporer dan peristiwa-peristiwa yang akan datang dan tidak mundur kembali kepada peristiwa-peristiwa masa kanan-kanak. Segi pandang yang sehat ini memberi jauh lebih banyak kebebasan dalam memilih dan bertindak.

Karena Allport mengetahui perbedaan-perbedaan antara manusia yang neurotis dan manusia yang sehat ini, maka dia lebih suka mempelajari hanya orang-orang dewasa yang matang dan kerena itu sistem dari Allport hanya berorientasi pada kesehatan.

• Motivasi pada Pribadi yang Sehat

Allport percaya bahwa masalah yang sangat penting bagi para ahli psikologi yang memperlajari kepribadian ialah usaha untuk menerangkan motivasi. Menurut Allport, motif-motif seorang dewasa bukan perpanjangan atau perluasan motif-motif masa kanak-kanak. Motif-motif orang dewasa secara fungsional otonom terhadap masa kanak-kanak , yakni motif-motif itu tidak tergantung pada keadaan-keadaan asli.

“Kodrat intensional” (intentional nature) kepribadian sehat (perjuangan ke arah masa depan) mempersatukan dan mengintegrasikan seluruh kepribadian. Kendati mungkin seseorang ditimpa oleh masalah-masalah dan konflik-konflik (dan bahkan kepribadian yang sehat tidak sama sekali bebas dari masalah-masalah), kepribadiannya dalam arti tertentu dapat menjadi utuh dengan mengintegrasikan semua seginya untuk mencapai tujuan-tujuan dan intensi-intensi.
Manusia yang sehat memiliki kebutuhan terus-menerus akan variasi, sensasi dan tantangan-tantangan baru. Mereka tidak suka akan hal yang rutin dan mencari pengalaman baru. Mereka mengambil resiko, berspekulasi dan menyelidiki hal baru. Allport percaya melalui pengalaman dan resiko yang yang menimbulkan tegangan ini, manusia dapat tumbuh.

• Kriteria Kepribadian yang Matang
Tujuh kriteria kematangan ini merupakan pandangan-pandangan Allport tentang sifat-sifat khusus dari kepribadian sehat.

1. Perluasan Perasaan Diri
Ketika diri berkembang maka diri itu meluas menjangkau banyak orang dan benda. Pertama, diri berpusat pada individu, kemudian ketika lingkaran pengalaman bertumbuh maka diri bertambah luas meliputi nilai-nilai dan cita-cita yang abstrak. Ketika orang berkembang menjadi matang maka, dia mengembangkan perhatian-perhatian diluar diri. Akan tetapi tidak cukup hanya berinteraksi dengan sesuatu atau seseorang diluar dirinya oleh karena itu, orang harus menjadi partisipan yang langsung dan penuh.
Semakin seseorang terlibat sepenuhnya dengan berbagai aktifitas atau orang atau ide, maka semakin juga dia akan sehat secara psikologis. Diri akan menjadi tertanam dalam aktifitas yang penuh arti dan aktifitas ini menjadi perluasan perasaan diri.

2. Hubungan Diri yang Hangat dengan Orang-orang Lain
Allport membedakan 2 macam kehangatan dalam hubungan dengan orang-orang lain yaitu, kapasitas untuk keintiman dan kapasitas untuk perasaan terharu.
Orang yang sehat secara psikologis mampu memperlihatkan keintiman (cinta) terhadap orang tua, anak, partner, dan teman akrab. Syarat lain bagi kapasitas untuk keintiman ialah suatu perasaan identitas diri yang berkembang dengan baik.
Hubungan cinta dari orang-orang yang neurotis dengan hubungan cinta dari kepribadian-kepribadian yang sehat mempunyai perbedaan. Orang yang neurotis harus menerima cinta jauh lebih banyak dari pada kemampuan mereka untuk memberinya. Cinta dari orang yang sehat adalah tanpa syarat, tidak melumpuhkan atau mengikat.
Tipe kehangatan yang kedua, perasaan terharu adalah suatu pemahaman tentang kondisi dasar perasaan kekeluargaan dengan semua bangsa. Orang yang sehat memiliki kapasitas untuk memahami kesakitan-kesakitan, penderitaan-penderitaan, dan kegagalan-kegagalan yang merupakan ciri kehidupan manusia. Orang yang matang sabar terhadap tingkah laku orang-orang lain dan tidak mengadili atau menghukumnya. Orang yang sehat mengakui kelemahan manusia dan mengetahui bahwa dia memiliki kelemahan yang sama. Akan tetapi orang neurotis tidak sabar dan tidak mampu memahami sifat universal dari pengalaman-pengalaman dasar manusia.

3. Keamanan emosional
Kualitas utama dari kepribadian yang sehat adalah penerimaan diri. Kepribadian yang sehat menerima semua segi yang ada dari mereka, termasuk kelemahan dan kekurangan secara pasif pada kelemahan dan kekurangan tersebut, mereka juga mampu menerima emosi-emosi manusia dan tidak bersembunyi dari emosi itu, dan mengontrol emosi-emosi mereka sehingga emosi ini tidak mengganggu aktivitas antar pribadi. Akan tetapi orang neurotis menyerah pada emosi apa saja yang dominan pada saat itu. Berkali-kali memperlihatkan kemarahan atau kebencian walaupun perasaan ini mungkin tidak tepat.
Orang yang sehat mampu hidup dengan inti dan segi-segi lain dalam kodrat manusia, dengan sedikit konflik dalam diri mereka atau dengan masyarakat. Kualitas lain dari keamanan emosional ialah “sabar terhadap kekecewaan”. Hal ini menunjukan bagaimana seseorang bereaksi terhadap tekanan dan hambatan dari kemauan dan keinginan. Orang yang sehat sabar menghadapi kemunduran, mereka tidak menyerahkan diri pada kekecewaan, tetapi mampu memikirkan cara yang berbeda dan tidak bebas dari perasaan-perasaan tidak aman dan ketakutan-ketakutan, tetapi mereka merasa kurang terancam dan dapat menanggulangi perasaan tersebut dengan lebih baik dari pada orang yang neurotis.

4. Persepsi Realistis
Orang yang sehat memandang dunia mereka secara objektif. Sebaliknya, orang yang neurotis kerap kali harus mengubah realitas supaya membuatnya sesuai dengan keinginan-keinginan, kebutuhan-kebutuhan dan ketakutan-ketakutan mereka sendiri. Mereka tidak perlu percaya bahwa orang lain atau situasi semuanya jahat atau baik menurut suatu prasangka pribadi terhadap realitas. Mereka menerima realitas sebagaimana adanya.

5. Ketrampilan-ketrampilan dan Tugas-tugas
Allport menekankan pentingnya pekerjaan dan perlunya meneggelamkan diri sendiri didalamnya. Keberhasilan dalam pekerjaan menunjukan perkembangan ketrampilan dan bakat tertentu (suatu tingkat kemampuan). Allport juga mengemukakan ada kemungkinan bahwa orang-orang yang memiliki ketrampilan menjadi neurotis. Akan tetapi tidak mungkin menemukan orang yang sehat dan matang yang tidak mengarahkan ketrampilan mereka pada pekerjaan mereka.
Komitmen dalam orang sehat begitu kuat sehingga mereka sanggup menenggelamkan semua pertahanan yang berhubungan dengan ego dan dorongan (seperti kebanggaan) ketika mereka terbenam dalam pekerjaan mereka. Pekerjaan ini ada hubungannya dengan tanggung jawab dan kelangsungan hidup yang positif. Pekerjaan dan tanggung jawab memberikan arti dan perasaan kontinuitas untuk hidup. Tidak mungkin mencapai kematangan dan kesahatan psikologis yang positif tanpa melakukan pekerjaan yang penting dan melakukannya dengan dedikasi, komitmen, dan keterampilan-keterampilan.

6. Pemahaman Diri
Usaha untuk mengetahui diri secara objektif mulai pada awal kehidupan dan tidak akan pernah berhenti tetapi ada kemungkinan mencapai suatu tingkat pemahaman diri tertentu yang berguna dalam setiap usia. Orang yang memiliki suatu tingkat pemahaman diri yang tinggi atau wawasan diri tidak mungkin memproyeksikan kualitas-kualitas pribadinya yang negative kepada orang lain. Orang yang memiliki wawasan diri yang lebih baik adalah lebih cerdas dari pada orang yang memiliki wawasan diri yang kurang.

7. Filsafat Hidup yang Mempersatukan
Allport menyebut dorongan yang mempersatukan ini “arah”, dan lebih kelihatan pada kepribadian-kepribadian yang sehat dari pada orang yang neurotis. Arah itu membimbing semua segi kehidupan seseorang menuju suatu tujuan serta memberikan orang itu suatu alasan untuk hidup. Tanpa tujuan kita mungkin akan mengalami masalah kepribadian. Menurut Allport mustahil memiliki suatu kepribadian yang sehat tanpa aspirasi dan arah ke masa depan.
Allport menekankan bahwa nilai-nilai (bersama dengan tujuan-tujuan) adalah sangat penting bagi perkembangan suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Seorang individu dapat memilih diantara berbagai nilai dan nilai itu mungkin berhubungan dengan diri sendiri atau mungkin oleh banyak orang lain. Orang neurotis tidak memiliki nilai atau hanya memiliki nilai yang terpecah-pecah dan bersifat sementara. Nilai ini tidak tetap atau cukup kuat untuk mengikat atau mempersatukan semua segi kehidupan.
Suara hati juga berperan dalam suatu filsafat hidup yang mempersatukan. Allport mengemukakan perbedaan antara suara hati yang matang dan yang tidak matang. Suara hati yang matang sama seperti suara kanak-kanak yang patuh penuh pembatasan dan larangan yang dibawa dari masa kanak-kanak ke dalam masa dewasa. Suara hati yang tidak matang bercirikan perasaan “harus” dan bukan “sebaiknya”. Suara hati yang matang adalah suatu perasaan kewajiban dan tanggung jawab kepada diri sendiri dan kepada orang-orang lain, dan mungkin berakar dalam nilai-nilai agama atau nilai-nilai etis.

• Referensi :
Schultz, Duane, Psikologi Pertumbuhan: Model-model Kepribadian Sehat, Penerjemah Drs. Yustinus, M.Sc., OFM. (Yogyakarta: Kanisius, 1997).